Speak Good or Remain Silent



Kata dapat menjadi air yang menggerus batu yang keras menjadi lunak. Dan kata dapat pula menjadi pisau tak kasat mata, yang menggores luka pada hati.

Aku menatap layar kunci smartphone, “Speak Good or Remain Silent”. Setelah kubuka kunci layar dan mengecek pesan pada aplikasi chating, layar itu berkata kembali meski samar-samar karena kini tertutup pesan-pesan yang masuk. Aku ingat, mengapa aku mulai mengganti wallpaper-nya. Agar saat terjebak dalam percakapan atau informasi yang cenderung membawa mudharat pada hati, kita harus sadar untuk segera mem-filter-nya, untuk kemudian tidak tenggelam dalam situasi dan tidak telanjur melepas kata yang tidak semestinya.

Banyak perubahan bermula dari kata. Baik dari kata yang kita dengar melalui pembicaraan, atau kata yang kita cerna melalui tulisan. Perubahan bermula dari kata yang mengguncang hati, entah tujuannya untuk mengeraskan atau melembutkan hati. Sebegitu besar kekuatan yang kata miliki. Mungkin itulah salah satu alasan-Nya, dibalik perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita untuk kerap membaca kalam-Nya. Dan itulah mengapa, para sahabat mengabadikan perkataan Rasul dalam hadist-hadistnya. Agar kata yang kita terima adalah kata-kata membawa pengaruh baik bagi hati, kata-kata yang menuntun pada siratal mustaqim, jalan yang lurus.

Bisa jadi seseorang pada mulanya adalah seseorang yang baik namun dapat menjadi rusak karena mendengar perkataan atau membaca tulisan yang merusak  hati dan pikiran. Sebaliknya, ada pula orang yang sebelumnya dikenal sebagai orang baik-baik namun berubah berkelakuan buruk dikarenakan terperangkap dalam kebiasaan mendengar dan mencerna perkataan yang buruk atau membawa kemudharatan. Adapula, perkataan yang dikemas baik, namun berlogika terbalik yang kata-katanya menakjubkan namun sejatinya memalingkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Korzybsky, ahli general semantics menjelaskan adanya hubungan antara kekacauan penggunaan Bahasa dengan penyakit jiwa. Implikasinya, pentingnya menggunakan Bahasa yang baik dan tertib dalam pemakaian istilah jika ingin menyehatkan masyarakat. Maka berlaku pun sebaliknya, masyarakat akan sakit jika terus menerus disuguhi perkataan yang merusak.

Pentingnya menertibkan istilah adalah kunci dalam menyehatkan masyarakat. Penertiban ini tak sekedar penertiban teknis, namun lebih kepada pemaknaannya. Seperti pemaknaan istilah auliya yang hits saat ini, pendapat jumhur ulama telah menafsirkan istilah auliya yang bermakna pemimpin (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/132). Mengaburkan pendapat para ulama yang notabene telah ahli dalam tafsir kitab suci Al-qur’an akan menggangu ketertiban penggunaan istilah. Lebih lanjut akan menggoyahkan iman, merapuhkan kepercayaan yang kokoh atas ulama maupun agama itu sendiri. Padahal, bukankah Al-qur’an merupakan mukjizat terbesar? Kalam-Nya merupakan pedoman dasar dalam menjalani kehidupan, Rasulullah adalah menyampai risalah-Nya dan ulama adalah pewarisnya.

Maka apalah kita yang awam ini? Mari senantiasa jadikan diri sebagai pembelajar dalam berkata yang baik atau diam.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah mengatakan yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)


Suka Duka Menjadi Auditor

Hai! long time no post. Haha… Dulu pas high season audit, saya jarang nge-post dengan dalih sedang banyak kerjaan dengan deadline yang ketat. Nyatanya, pas low season juga masih jarang nge-post, karena banyak ikut tes sana-sini. (Upps.. tes apa hayoo?) Well, alasan sih sebenarnya akan selalu ada, tinggal kitanya memang mau cari-cari alasan atau mau cari-cari kesempatan untuk merealisasikannya(?)

Mungkin saya adalah seorang yang cenderung well-prepared pada hal-hal yang belum menjadi ahlinya. Tiap melakukan sesuatu yang belum ahlinya, termasuk menulis, akan jadi proses yang memakan waktu persiapan lama. Alih-alih lama dalam persiapan, rencana malah berpotensi jadi sekedar wacana yaa. So, saya akan mulai dari hal-hal yang sederhana saja yang pernah saya alami atau lakukan. Karena secara tidak sadar, ketika sebelum generasi millennium (alias kita) menekuni suatu hal, kita akan browsing dulu untuk ‘mencuri’ gambaran dari orang lain lewat cerita mereka di blog. Nah, ternyata sesederhana apapun pengalaman dapat bermanfaat bukan? Baiklah, cukup.

In this post, I want to tell you about being Auditor, sebatas pengalaman sebagai auditor. Cekidot!

sumber: pinterest.com
Auditor adalah seseorang yang menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia (Arens, 1995)
Auditor bekerja dalam sebuah tim audit, so you can not be a hero by just being superman, yang paling hebat karena menyelesaikan tugas audit sendirian but you need to develop a super team. But not only at once, karena anggota timnya akan berbeda-beda setiap engagement dengan klien audit. Jadi menurut saya, iklim ‘pertemanan’ di perusahaan audit akan menjadi sangat penting bagi kelancaran audit itu sendiri. Enggak berdasarkan penelitian sih, berdasarkan premis-premis itu. Mungkin ada temen-temen pembaca yang mau meneliti hal ini?

Kumpulan auditor ini bekerja dalam perusahaan yang memberikan jasa audit, biasanya berbentuk persekutuan yang terdiri dari beberapa orang. Perusahaan jasa audit ini dikenal dengan nama Kantor Akuntan Publik (KAP) alias Public Accountant Firm. Secara global, terdapat empat Perusahaan jasa Audit terbesar atau yang disebut Big Four. Keempat besar KAP ini adalah Pricewaterhouse Coopers (PwC), Deloitte Touch Tohmatsu, Ernst & Young (EY), dan KPMG. Apakah masih ada KAP selain yang telah disebutkan? Tentu. Ada juga KAP mid tier, yang  peringkatnya dibawah KAP yang telah disebutkan, biasanya termasuk dalam 10 besar (big ten), selain itu masih banyak lagi KAP lokal yang beroperasi di tiap negara.

Seperti pekerjaan lain, bekerja sebagai auditor ada plus dan minusnya juga. Setiap tahunnya auditor mengenal adanya dua musim audit, yaitu peak or high season dan low season. Peak atau High season audit adalah musim dimana tugas audit sedang banyak-banyaknya, umumnya dialami sekitar bulan Desember-Maret. Kenapa? Karena cut-off periode keuangan perusahaan umumnya per 31 Desember, jadi sejak bulan Desember auditor telah mendapat banyak perikatan dengan klien, yang berarti pula auditor harus mulai melakukan proses audit dengan melakukan prosedur-prosedur audit guna mendasari pemberian opini auditnya. Berdasarkan yang saya ketahui, rata-rata proses audit berkisar antara 2 minggu sampai 4 bulan. Lama tidaknya proses audit ini sangat dipengaruhi pada besar tidaknya scope perusahaan klien audit. Walaupun hal ini dapat pula dipengaruhi oleh kinerja audit, sikap cooperative-nya klien, kemudahan perolehan data audit, sistem akuntansi perusahaan klien, prosedur audit yang diminta, dsb.

Lalu kenapa high season berakhir hingga Maret? Karena kebijakan Otoritas Jasa Keuangan Indonesia sendiri yang mewajibkan perusahaan go public untuk melaporkan keuangan setiap periode keuangan selambat-lambatnya pada 31 Maret. Untuk perusahaan yang tidak go public memang tidak memiliki keharusan untuk itu, tapi biasanya perusahaan tersebut juga memiliki kewajiban dengan pihak terkait perusahaan seperti Bank, Dirjen Pajak untuk menyerahkan laporan keuangannya dalam tenggat waktu tertentu. Oleh karena itu, meskipun tidak ada jangka waktu yang mengikat, klien dan KAP akan tetap mengestimasikan waktu auditnya. Lagipula jika masa audit terlalu lama bisa jadi akan semakin banyak biaya audit yang kelak dibebankan pada perusahaan klien, dan KAP selaku pemberi jasa audit juga tak kunjung memperoleh keseluruhan fee auditnya jika opini audit belum diterbitkan.

Nah, karena pekerjaan yang banyak dan deadline yang ketat saat high season, auditor banyak lemburan pada waktu-waktu ini. Sebagai auditor, mau tidak mau, suka tidak suka, akan menjadi workaholic di musim ini. Di satu sisi pendapatan dari bekerja sebagai auditor akan meningkat terkait adanya tambahan dari uang lembur. Hehe.. Tapi di satu sisi energi akan sangat terkuras, karena bukan hanya bekerja hingga malam bahkan hingga lewat dari dini hari.

Tapi, saya dengar juga dari teman yang bekerja sebagai auditor, timnya tidak pernah lembur hingga dini hari, karena adanya kebijakan dalam tim auditnya untuk tidak ada lembur tapii….. tetap bekerja di rumah masing-masing karena dini harinya pun ditagih hasil kerja hari itu. Hehe.. Ya di satu sisi, bisa lebih bebas kerja di rumah bisa sambil tidur-tiduran, nonton TV ya, tapi disatu sisi juga gak dapet uang lemburan. Hehe.. Jadi pengaturan lembur ini berbeda-beda hampir di setiap KAP,  aturan uang Lembur a.k.a overtime untuk KAP besar umumnya mengikuti aturan pemerintah (Cek UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Keputusan Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004 tentang waktu kerja lembur dan upah kerja lembur).

Jika lembur hingga lewat dini hari, atau ketika hari libur bahkan libur nasional, pasti terbayang oleh kita uang lemburan yang selangit (sorry lebay). But in fact, it is not always true. Why? Besaran uang lembur yang dapat auditor peroleh tergantung dari besaran lembur yang boleh di-charge, alias sejumlah yang memang mendapatkan approval dari atasan. Hal tersebut berkaitan dengan fee audit atas engagement dengan klien. Jadi, jangan kaget jika ada istilah ‘potong’ overtime, atau overtime yang tidak dapat dibayar. That’s why mengapa auditor perlu bekerja seefektif dan efisien mungkin. Selama high season audit seolah-olah waktu hanya untuk kerja, kerja, dan kerja. Tidak hanya weekdays, weekend atau mungkin libur nasional pun bisa jadi harus direlakan. Konon, beban kerja yang tinggi saat high season audit inilah yang mungkin menjadi faktor mengapa turn over karyawan di KAP sangat cepat alias bikin gak betah.

Oia, karena lembur hingga larut ini, di beberapa KAP akan memberikan voucher taksi atau melakukan reimburse terhadap biaya taksi yang digunakan auditornya untuk pulang lembur diatas jam 8 atau 9 malam. Hal ini dikarenakan sulitnya mendapat transportasi lewat dari jam tersebut. Selain itu juga jam malam sangat rawan tindak kejahatan, maka perusahaan mengakomodasi karyawannya untuk menggunakan taksi.
Jika saat high season auditor sedang super duper sibuknya, berbeda saat low season.  Pekerjaan audit lebih ‘santai’ karena perikatan audit saat low season tidak sebanyak saat high season. Dan tentu saja, pendapatan juga menyesuaikan yaa.. hehe jadi ya hemat-hemat pengeluaran.

Dan uppss.. benar ga sih auditor itu dimusuhin banyak orang? Hehe.. emangnya kita kriminal, atau situ yang kriminal sampe musuh-musuhan segala sama auditor?

Tugasnya yang mencari informasi sedalam-dalamnya, alias ngepoin bisnis klien, bisa jadi auditor dianggap membuka luka lama (kalau memang ada yang terluka loh ya). Kalau tidak ada luka, alias penyimpangan atas keuangan perusahaan yang disengaja, sebenarnya ga ada yang mesti ditakuti dari seorang auditor. Pencarian informasi dalam-dalam ini dimaksudkan agar apa yang menjadi laporan audit mengungkapkan yang opininya dapat dipertanggungjawabkan. Mungkin ketidaksukaan ini diakibatkan karena audit data request yang harus disediakan klien yang berjumlah banyak sehingga menambah pekerjaan dari yang biasanya mereka lakukan. Sehingga seringkali data yang kita minta klien untuk disediakan, tidak langsung disediakan, atau disediakan sebagian-sebagian. Hal semacam ini memang sangat melatih kesabaran, dan yang seringkali membuat auditor harus bersikap kritis atas alasan-alasan penundaan penyediaan data. Bagaimanapun, data pending akan mempengaruhi efektivitas kerja nantinya.

Seringkali auditor terkesan sebagai orang yang curigaan, karena sikapnya yang dituntut gak langsung percaya atas informasi yang diberikan klien. Mungkin ini yang jadi sentimen negatif. Hehe.. Laporan keuangan per book, atau laporan keuangan yang disajikan oleh klien kadangkala belum mencerminkan yang sebenarnya, maka diperlukan pihak ketiga dalam hal ini adalah auditor guna memeriksanya. Alih-alih memeriksa, karena ketidakrapihan pencatatan itu tim audit harus merapikan ketersajian laporan keuangan terlebih dahulu. Saya pernah dengar guyonan teman, “udah kasih aja ke auditor, nanti juga dibenerin laporannya sama mereka”. Jadi karena itu auditor perlu memperbaiki penyajiannya terlebih dahulu baru kemudian merekomendasikan jurnal penyesuaian atau koreksi. Untuk itu, penting bagi auditor bersikap skeptic atas informasi yang didapatkan. Jadi, dari pihak auditor maupun klien harus saling pengertian demi kelancaran proses audit, kerjasama  dan hubungan yang baik harus diupayakan oleh keduanya. Auditor harus memintanya hal-hal yang dibutuhkan selama audit dengan baik dan santun, pun dari klien harus responsif dan kooperatif. Hubungan interpersonal menjadi sangat penting dalam menjaga hubungan baik dengan klien tanpa harus mengenyampingkan nilai-nilai professional dari masing-masing profesi.

Sejauh ini sih hubungan saya dengan klien baik-baik saja, kalaupun ada hal-hal yang bikin bete, baik dari klien ataupun rekan sesame tim, ya mungkin dia sedang lelah.. haha, ga usah dibesar-besarkan apalagi diperpanjang, harus cepat-cepat cari cara alternatif untuk mendapatkan apa yang memang audit butuhkan. Hal-hal semacam ini bisa jadi bumbu peretak atau justru penguat dalam tim. Enaknya kalo tim audit solid, akan ada saling support dalam menyelesaikan tugas auditnya, saling bantu follow-up data request; kali aja kalo diminta sama yang ini dia mau, atau ngasih solusi ketika ‘dilempar’ sana-sini, saling menghibur, atau sekedar mengingatkan akan kesabaran. Hehe..

Di Public Accountant Firm, ada jenjang karir hingga seseorang berhak mengeluarkan opini audit dan menandatangani laporan auditnya ya. Jadi ga ujug-ujug kerja sebagai auditor langsung disuruh nyelesain laporan audit hingga penandatangannya. Berikut adalah jenjang karir dari salah satu Kantor akuntan Publik.



Sumber: www.slideshares.net

Performance Appraisal dilakukan perusahaan untuk menentukan dapat tidaknya promosi jabatan (promote) ke jenjang selanjutnya. Jika awal mula masuk KAP sebagai fresh graduate, umumnya KAP akan menerapkan masa probation (percobaan), ada yang selama 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, tergantung kebijakan perusahaan. Kemudian penilaian atas kinerja selama masa probation itu akan menentukan layak atau tidaknya ditetapkan menjadi permanent employee.
Untuk jenjang awal, seperti junior auditor, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan umumnya adalah pekerjaan clerical,  seperti review dokumen, vouching, bahkan seperti fotokopi, scan, bikin surat konfirmasi, follow-up data, mempersiapkan audit working paper untuk akun-akun yang membutuhkan prosedur audit yang sederhana, dll. Walau terkesan sederhana, kita perlu memahami pekerjaan dasar untuk menjadi atasan yang baik kan? Pekerjaan tersebut diinstruksikan oleh seseorang yang menjadi person in-charge (PIC) kita dalam sebuah tim, untuk selanjutnya direview oleh PIC atau bisa jadi oleh manajer. PIC sendiri biasanya telah berada setidaknya pada level Senior Audit.

In order to work effectively, kita harus benar-benar mampu mengatur waktu dalam bekerja. Jika telah selesai mengerjakan suatu tugas, kita harus memberitahukan dan berinisiatif untuk menanyakan prosedur atau pun tugas selanjutnya. Jika tidak, senior auditor, supervisor atau PIC dalam sebuah tim tidak akan mengetahui, apakah prosedur yang mereka minta telah dilaksanakan, apakah sudah mengetahui prosedur selanjutnya dan melaksanakannya, apakah ada kendala. Mereka akan menilai berdasarkan apa yang mereka ketahui saja bagaimana kinerja tiap anggota timnya selama ini. Jika kita menunda melaporkan pekerjaan telah selesai, bisa jadi malah kita dianggap terlalu lama menyelesaikan suatu pekerjaan.

Jika kalian punya passion akuntasi atau audit, ingin mengembangkan kemampuan praktik akuntansi atau memperdalam ilmu akuntansi, KAP adalah tempat kerja yang cocok. Penerimaan calon  karyawan KAP kebanyakan disediakan bagi fresh graduate bidang akuntansi. Jenjang pertama di KAP adalah sebagai Junior Auditor, training akan tetap diberikan namun cepat dan terbatas, lebih banyak learning by doing, apalagi kalau masuknya pas high season bisa jadi langsung disuruh ke klien, gak pake training dulu. Kenapa? karena masuk KAP sendiri memang dituntut untuk memahami akuntasi dan audit, disamping itu tiap klien memiliki karakter bisnis yang berbeda sehingga penanganan pekerjaan akan sangat dinamis. Selain itu, bertemu dengan berbagai orang, bekerja dalam berbagai tim, menangani berbagai jenis perusahaan, akan sangat membuka wawasan dan melatih hubungan interpersonal kita.


Cover Blog


diambil dari OPPO wallpaper dan designdakwah.com














Aku Sakit, Kenapa Engkau Tak Menjenguk-Ku?

Izinkan aku menuliskan untukmu sekelumit pesan dari Nabiku. Aku temukan pesan-pesan Nabi Shallaallahu 'alaihi wa Sallam yang membuat jantung gemetar. Ada ayat Allah yang membuatku tak punya pilihan lain di saat ini, kecuali menyampaikannya padamu sekalian. Maka, dengarkanlah dengan hati yang tulus dan jiwa yang tunduk dengan teguran dari Tuhanmu:

Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar (Q.S. Al-Hadiid [57]: 7)

Apakah yang Allah maksud ketika memperingatkan kita untuk menafkahkan sebagian dari harta yang kita miliki? Wallahu 'alam. Sesungguhnya, yang sedang berbicara kepadamu ini,tidak ada ilmu padanya kecuali sangat sedikit. Tak ada pengetahuan yang cukup padanya. Karenanya, untuk mengetahui maksud Allah dengan perintah nafkahkanlah itu, izinkanlah aku menghadirkan kepadamu  sabda Nabiku, Muhammad Shallaallahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani. Ingatlah ketika Nabimu bersabda:

Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya Muslim untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Tidak mengalami kesengsaraan orang-orang miskin, bila mereka lapar atau telanjang, kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. (H.r. Ath-Thabrani)

Sayyid Sabiq, salah seorang ulama mutakhir yang terkenal dengan Fiqhus-Sunnah-nya mengutip hadis ini seusai menukil ayat Al-Qur'an, "Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan bagi yang melarat (tidak meminta pertolongan)." (Q.s. Al-Ma'arij [70]: 24-25)

Hari ini, ktika masjid-masjid kita telah berdiri begitu megahnya di tengah kaum Muslimin yang ditimpa kemelaratan, maka sudah saatnya kita memperhatikan peringatan Nabi Shallaallahu 'alaihi wa Sallam. Ada banyak saudara-saudara kita yang melarat, tetapi mulut mereka tak kuasa bicara karena besarnya rasa malu dan kuatnya keinginan untuk menjaga kehormatan diri. Mereka terdiam tak bicara, bukan tak punya keinginan untuk menghalau rasa lapar dan kemelaratan yang menimpa mereka. Terkadang mereka tak kuasa bicara karena tak tahu dimana letak kesalahannya, Patutkah mempertanyakan pemugaran masjid-masjid yang sudah megah di saat iman saudara-saudara kita nyaris tergadai karena gula dan mie instan yang diberikan secara Cuma-Cuma dari pemeluk agama yang berbeda?

Rasanya, tak sampai mulut ini berbicara karena bukankah masjid itu rumah Tuhan? Mereka tak bicara karena mungkin mereka tak pernah mendengar peringatan dari Umar bin Khaththab agar kita tidak sibuk berlomba memegahkan masjid. Atau mungkin mereka tak bicara karena besarnya keinginan untuk mempertahankan kehormatan diri. Tetapi, mereka bicara atau tidak, perut yang lapar tidak selesai hanya dengan anjuran untuk bersabar.

Hari-hari ini, kita menghadapi saat-saat yang sulit. Bencana terjadi silih berganti. Tanah-tanah yang kita injak, satu persatu mulai bergerak runtuh. Bukit-bukit yang mengokohkan Bumi kita, perlahan-lahan mulai sakit dan tak kuat lagi menanggung betapa angkuhnya kita. Sementara wajah saudara-saudara kita, taklagi penuh keramahan seperti dulu. Sebagian diantara saudara kita ada yang menjadi begitu rentan terhadap kemarahan. Ada diantara mereka yang mudah tersulut. Salah satu sebabnya adalah nestapayang takkunjung mendapatkan penawarnya darisaudara-saudara mereka yang kaya.

Teringatlah saya dengan sebuah peringatan dari Nabi kita, Muhammad Shallaallahu 'alaihi wa Sallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkata, "Serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, "Hari ini kami tidak perlu bantuanmu. Yang kami perlukan darahmu."
Ketika kita memberi sedekah, sesungguhnya yang kita lakukan adalah mengeluarkan dari kita hak orang miskin. Kita menafkahkan sebagian dari harta kita di jalan yang Allah Ta'ala perintahkan. Bukankah Allah 'Azza wa Jalla sendiri yang menegur kita dengn pertanyaan retoris-Nya:

Tahukah kamu siapa yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya', dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna. (Q.s. Al-Maa'uun [107]: 1-7)

Ya Allah, jangan-jangan kita termasuk orang yang mendustakan agama. Ada orang-orang yang tidak bisa tidur di malam hari karena rasa lapar yang teramat sangat, tetapi di bulan Ramadhan sekalipun kita masih sanggup tidurkarena tak sanggup lagi menghabiskan makanan. Maka, kepada siapa kita memohon syafaat di hari Kiamat jika kita tidak dihitung sebagai orang yang mengimani rasulullah Shallaallahu 'alaihi wa Sallam? Bukankah nabi kita telah bersabda, Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. (H.r. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)

Senada dengan itu, Allah menegur kita dengan ungkapan yang halus dalam sebuah hadis qudsi riwayat Muslim, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala kelak di Hari Kiamat akan bertanya, "Hai Anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa engkau tidak menjenguk-Ku?"

Jawab Anak Adam, "Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku harus menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?"

Allah bertanya, "Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit,sedangkan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati aku di sisinya?"

"Hai Anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku makan?" Jawab Anak Adam, Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan Semesta Alam?"

Allah bertanya, "Apakah engkau tidak tahu hambaku si fulan meminta makan kepadamu, sedangkan engkau tidak memberinya makan? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkannya di sisi-Ku? Aku meminta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum?" Jawab Anak Adam, "Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau Tuhan Semesta Alam?"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum, maka sudah pasti engkau mendapatkan-Nya disisi-Ku." (H.r. Muslim)


Kalau setiap saat kita menengadahkan tangan untuk memanjatkan doa kepada-Nya seraya memohon ampun, sementara kita tak pernah mau mengeluarkan sedikit dari harta kita meski hanya berupa seteguk air untuk orang yang nestapa, masih pantaskah kita mengharap pertemuan dengan-Nya?

Oleh: Muhammad Fauzil Adhim

Lucu



Kadang hidup begitu lucu, biar ia begitu berat tetap saja rela dijalankan, bukan?
Menjalani ini-itu, meski sudah tahu begitu melelahkan, ternyata tak berapa kemudian lelahnya begitu dirindukan. Mungkin seperti kata orang yang berhasil mengatakan, nikmatnya hidup terasa setelah berjuang. Nyatanya waktu berhasil membuat kita bertekuk lutut bahwa ia masih begitu berharga dibandinngkan ego kita untuk berpangku tangan.
Tiap kali berbaring di kamar, setelah usai dengan segala aktivitas seharian, langit-langit di kamar selalu berhasil menggelar arena perenungan. Dari proses mikir kemana-mana itu, jadi berasa, haha.. ini apa banget. Pertanyaan ini beberapa kali muncul sejak bangku menengah pertama, kok kita mau yacapek-capek begini? Meski sudah tahu bakal berlelah-lelah tetap ya tetap saja rela, mungkin itulah Cinta. Jika hanya berlandas ego pribadi, mungkin sudah menyerah entah sejak kapan. Untungnya, Tuhan begitu baiknya mengatakan, untuk senantiasa menyerahkan kembali segala urusan pada-Nya, mempersembahkan segala perjuangan kita untuk-Nya.
Jadi, kalau meski sedang merasa capek-capeknya, terbersit pula“Siapa tau dengan cara ini, Allah sedang memantaskanmu untuk sesuatu yang lebih besar
Yaa, entah apapun itu,
semoga Dia selalu menjadi orientasi pertama dalam melangkah :)

Cara Membuat Masker Penutup Hidung yang 'Ramah' untuk Muslimah


Memiliki segudang aktivitas tentunya tidak berarti menjadikan kita (baca: muslimah) kesulitan menjaga kesehatan sekaligus menjalankan perintah berhijab. Baik bagi muslimah yang doyan berkendara motor, ataupun menggunakan angkutan untuk mobilitasnya, rentan terhadap debu dan asap yang disebabkan polusi udara. Debu dan polusi tersebut akan berdampak pada kualitas udara yang kita hirup, sehingga mengganggu kesehatan pernapasan. Selain itu partikel debu yang berasal dari polutan akan mengotori wajah, hingga menimbulkan kusam bahkan iritasi, yang notabene wajah adalah bagian tubuh wanita yang tidak diwajibkan ditutup dan biasa terlihat.
Biasanya wanita kerap mengenakan masker penutup hidung dan mulut untuk mengurangi dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh polusi udara. Namun, masker penutup hidung yang seringkali kita temui adalah masker dengan pengait di kedua telinga ataupun masker bertali yang perlu kita ikat ketika memakainya. Untuk memasang Masker yang memiliki pengait di kedua telinga tentu kita perlu mengaitkannya ke telinga dengan sebelumnya memasukkannya ke dalam kerudung yang kita kenakan. Sementara untuk masker bertali yang perlu diikat saat kita kenakan harus disesuaikan dengan besar kepala. Bisa jadi hal itu kurang praktis dikarenakan dapat mudah lepas jika kita tidak kuat mengikatnya atau susah dilepas jika terlalu kuat mengikatnya. Untuk itu, kali ini saya akan berbagi mengenai cara pembuatan masker penutup hidung yang mulut yang mudah untuk dikenakan maupun dilepas, terutama untuk muslimah berhijab.

1.       Siapkan Bahan dan Alat yang dibutuhkan
Bahan yang dibutukan seperti Kain Perca, Busa Lapis, Karet, dan Benang Jahit. Sementara Alat-alat yang diperlukan seperti Jarum, Gunting, Kertas dan Glue Gun











2.       Buat Pola untuk Masker
Berikut adalah pola masker untuk orang dewasa


3.       Gunting Kain sesuai Pola, Untuk Lapis Depan dan Belakang Masker

4.       Satukan Kedua Pola tersebut dengan menjahit bagian tengah Pola (berbentuk Cembung)



5.       Buat Pola di busa lapis
Bentuk Pola seperti bentuk pola kain, hanya saja dikurangi 1 cm pada sisi-sisi terluarnya dan bagian tengah sedikit tersambung.



6.       Lem bagian tengah busa lapis
Bagian tengah yang tidak tersambung disatukan dengan lem. Hal ini dimaksudkan untuk memperkuat bentuk Masker, dan mencegah busa lapis bergeser ataupun melipat.



















7.       Gunakan Lapis Depan dan Belakang Kain Masker untuk melapis busa lapis.
Kemudian tutup sisi atas dan bawah dengan menjahitnya

8.       Buat Tali Masker dengan mengisi bagian tali dengan Karet.
Bentuk ujung tali dapat disesuaikan dengan keinginan











9.       Satukan Tali dan Masker dengan menjahitnya



Mudah bukan? Kamu dapat membuat masker sendiri dengan memanfaatkan kain perca di rumah sesuai dengan warna atau corak yang kamu sukai. Semoga bermanfaat. Be Creative and Keep Healthy, ukhtifillah ~





»» Berminat untuk langsung memilikinya? Bisa kontak di BBM 74641343 :)

(Anak) Jakarta: Dulu, Kini, dan Nanti



Beberapa belas tahun yang lalu, aku masih ingat betul bagaimana serunya bermain dengan anak-anak lain di pelataran antara rumah-rumah kami. Biasanya waktu bermain kami dimulai setelah ashar hingga sesaat sebelum maghrib tiba. Ibu-ibu kami pun ada disana, bersenda gurau dengan para tetangga sambil sesekali melirik ke arah kami jikalau sekiranya kami mulai mulai melakukan hal yang berbahaya, seperti berlari terlalu cepat, mendorong terlalu keras, dsb. Padahal kami sendiri tidak khawatir soal itu, apalagi soal penjahat anak yang kini santer terdengar di media.

Hari dan tahun kian bergulir, aku dan teman-teman sepantaranku mulai lebih banyak sibuk dalam kegiatan pendidikan kami masing-masing. Diantara kami ada yang sibuk dengan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah les bimbel, mengerjakan tugas kelompok, atau sekedar nongkrong dengan teman-teman sepulang sekolah. Tapi sesekali kami masih saling bertegur sapa di instant messaging dan bertemu di acara buka puasa bersama kala bulan Ramadhan tiba.

Kini beberapa diantara kami ada yang sudah bekerja di kantor, melanjutkan kuliah, atau mengurus rumah tangga. Ketika sore tiba kadang terdengar samar olehku riang suara anak-anak di pelataran rumah. Batinku senang mendengar suara-suara generasi penerus kami, ya generasi yang masih suka bermain dengan teman-temannya di pelataran rumahnya. Pernah suatu saat ketika mereka sedang bermain, aku berjalan melewatinya, berharap mendapat momen-momen nostalgia masa kecil dulu. Tapi sayang, ada yang sedikit hilang. Aku tak lagi melihat tali karet yang dulu berhasil membuatku lompat-lompat, atau perabotan masakan mini yang penuh dedaunan dan bunga, atau kerikil bertumpuk yang ketika berhamburan anak-anak pun turut berhamburan. Ah sudahlah, mungkin memang bukan lagi zamannya.

Beberapa minggu terakhir, selepas kembalinya aku dari kuliah di luar kota, malam hari aku selalu mendengar berita di televisi. Biasanya selepas isya' keluarga berkumpul di ruang tengah, entah untuk menonton berita, berdiskusi, dsb. Tapi wajah-wajah kami terlihat kaku akhir-akhir ini, tiap kali media memberitakan maraknya kejahatan pada anak-anak di ibukota. Marak orangtua membuang bayinya, membunuh keji anaknya, teman sekolah yang berkelahi lantas menewaskan temannya, sampai kasus pelecehan seksual oleh kerabat atau tetangganya.

Tak berselang lama, pemerintah ibukota, selaku pemimpin wilayah angkat bicara. Pemicu kejahatan terhadap anak adalah kurangnya ruang terbuka yang terpusat untuk anak-anak bermain. Lebih lanjut, pemimpin tertinggi ibukota ini berencana memperbanyak proyek pembangunan taman kota yang dinamakan Ruang Publik Terpadu. Rencananya Ruang Publik terpadu ini akan diprasaranai dengan fasilitas bermain anak serta CCTV sebagai kamera pengawas. Selain itu, Ruang Publik terpadu ini tak hanya ramah anak, tetapi juga masyarakat umum.

Aku memang tidak mengerti akan seefektif apa jika taman ini ada karena dulu aku memang tak begitu membutuhkannya untuk bermain dengan anak-anak tetangga. Tapi yang namanya proyek pembangunan, sarat godaan akan buai-buai korupsi, semoga peristiwa-peristiwa belakang ini tidak dijadikan alat memuluskan penggelapan anggaran. Terlepas dari prasangka, taman kota adalah proyek infrastuktur yang baik bagi sebuah kota. Hanya saja, apakah maraknya perilaku kejahatan pada anak dan kekerasan yang terjadi diantara anak-anak dikarenakan oleh kurangnya Ruang Publik Terpadu?

Aku khawatir, pemicu berbagai kejahatan yang berhubungan pada anak lebih pada lingkungan pergaulannya. Coba kita lebih menelisik dalam diri, mungkin ada perkataan-perkataan kasar yang keluar dari orang-orang yang menjadi perhatiannya, entah itu teman sebaya, orangtua atau guru, atau bahkan tokoh-tokoh pemimpin mereka. Media televisi yang setiap hari mau tidak mau melaporkan bentrokan antar pelajar, bentrokan antar warga, bahkan bentrokan dengan aparatur pemerintah yang notabene adalah pengayom rakyatnya. Mungkin saja bukan? Sebab anak-anak suka meniru perilaku orang disekitarnya, hingga ia bertindak terlampau jauh hingga menewaskan temannya. Mungkin saja bukan? Sebab anak-anak masih harus memilah-milah mana yang benar dan salah, mana yang aman dan yang bahaya, hingga ia tertipu dengan berbagai modus kejahatan terhadapnya.

Alangkah baiknya jika pembangunan infrastruktur guna memfasilitasi anak bermain juga diiringi perbaikan moral dan akhlak warganya. Justru perbaikan moral dan akhlaklah yang menjadi fokus utama program-program perbaikan yang dilakukan pemerintah. Karena yang dibutuhkan rakyat lebih jauh dari sekedar kepala proyek, tapi seorang pemimpin yang mampu mengayomi rakyatnya, memanusiakannya dengan berucap dan berperilaku layaknya manusia yang bermartabat.

Tanpa itu semua, menciptakan keamanan bagi anak-anak hanya semu belaka. Pesatnya teknologi dan informasi, tekanan ekonomi serta lingkungan sosial tanpa perbaikan moral dan akhlak hanya akan menghasilkan pribadi-pribadi dengan akhlak dan moral yang buruk.  Ruang Publik Terpadu mungkin akan banyak dihiasi oleh muda-mudi yang berjalan mesra, yang kini sudah dianggap biasa bahkan untuk dipandang anak-anak disana. Tentu akan semakin berkurang anak-anak yang bermain di pelataran rumah-rumah mereka dan berbincang dengan tetangga, atau mungkin masyarakat kota sudah semakin individualis terbaur ciri kota metropolitan.

Senja Jakarta, 14 Oktober 2015

Dalam kerisauan maraknya tindak kejahatan terhadap anak