Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Dimulakan dengan Bismillah, Disudahi dengan Alhamdulillah

Lucunya, nasyid ini pertama kali saya dengar dari seorang pengamen, bukan dalam agenda mengaji ataupun pernikahan islami atau lainnya. Beberapa nasyid karya Raihan memang pernah saya dengar, tapi yang satu ini jujur saja baru tau kemarin. Qodarullah, situasi yang mendukung dan pembawaan penyampainya  yang menenangkan membuat saya merasa nasyid ini menjadi nasihat sekaligus penghibur yang ngena’ banget saat itu.



Malam itu, seorang pengamen berjenggot membawakan nasyid ini dengan gitarnya di dalam sebuah bus patas yang mulai penuh sesak dengan manusia-manusia selepas pulang kerja. Mendengar  nasyid ini dibawakan serasa merubah lelah menjadi semangat, sesak menjadi syahdu, dan mungkin kufur menjadi syukur. Ditambah karena saya baru pertama kali mendengarnya, saya begitu memperhatikan isi pesan yang dibawakan dalam nasyid ini. Sesampainya di rumah langsung browsing cari judul nasyid tersebut berdasarkan lirik yang coba saya ingat sebelumnya. Ternyata, tak lain pembawanya adalah Raihan, dengan judul Bismillah. Indah.

Nasyid ini menyampaikan pesan untuk mengawali segala aktivitas kita dengan membaca Basmalah serta mengakhirinya dengan hamdalah. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan dengan ditujukan dan disandarkan kepada Allah 'Azza wa Jalla. Setelah usai mengerjakan sesuatu, ucapkanlah alhamdulillah, sebagai bentuk syukur atas perkenaan Allah. Dengan demikian, diharapkan apapun yang menjadi aktivitas kita dapat dirahmati Allah.

Aktivitas yang dapat manusia lakukan ada yang bernilai kebaikan dan keburukan. Manusia diberikan kesempatan memilih berikut konsekuensinya. Oleh karenanya, kita diharapkan untuk dapat melakukan segala sesuatu yang menjadi bekal kita di akhirat kelak, yang akan membawa kita ke jannah-Nya. Bekal tersebut diperoleh dengan amal, ilmu dan juga ketakwaan pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketiga hal tersebut yang dapat menjadikan seseorang mampu beramal, saling berkasih sayang dan berderma agar tercipta kehidupan harmonis dan bahagia

Semoga nasyid ini dapat menjadi pengingat dan penghibur kita semua :)

Berikut link video youtube beserta liriknya:

Bismillah - Raihan



Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Mulakanlah kekat dengan niat yang satu
Untuk mendapatkan Keredhaan-Nya
Moga segala urusan dipermudahkan-Nya
Agar senantiasa dalam kebaikan
Barulah hati kita kan terasa tenang
dan bersyukur dengan apa yang ada

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Buruk dan baik itu ketentuan Allah
Kitalah jua yang memilihnya
Amal yang baik akan membawa ke Surga
Amalan buruk menempah Neraka

Hanyalah iman, amal, dan juga taqwa
Menjadi bekal dalam hidup kita
Hanyalah iman, amal, dan juga taqwa
Menjadi bekal dalam hidup kita

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Ilmu pelita menerangi kegelapan
Darilah ilmu datangnya amalan
Dari amalan lahirlah kasih sayang
Saling membantu dan bekerja sama

Rezeki yang ada dihulurkanlah derma
Terjalin hidup harmoni bahagia
Rezeki yang ada dihulurkanlah derma
Terjalin hidup harmoni bahagia

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Dimulakan dengan Bismillah
Disudahi dengan Alhamdulillah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah
Begitulah sehari dalam hidup kita
Mudah-mudahan dirahmati Allah

Sibuklah Menjadi Baik


“Yang menghancurkan itu ada tiga, yaitu bangga seseorang terhadap dirinya, kikir yang ditaati dan hawa nafsu yang diikuti.” (H.R. Ibnu Abbas)

Bismillah,

Salah satu yang dapat menghancurkan amalan manusia adalah sifat ujub. Apa itu ujub? Arti kata ujub menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah keangkuhan, kesombongan atau rasa bangga.  Menurut Sufyan Ats-Tsauri rohimahumulloh, ujub  merupakan perasaan takjub terhadap diri sendiri sehingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal bisa jadi seseorang tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu.

Memiliki teman yang banyak, kedudukan dalam organisasi yang terpandang, jabatan di pekerjaan yang mapan, kekuatan finansial yang besar, ataupun sarana yang serba lengkap terkadang membuat manusia lalai akan hakekat dirinya yang lemah dan senantiasa menyandarkan kebutuhan hidupnya pada Allah ‘azza wa jalla. Kelalaian tersebut menjadi gerbang masuknya perasaan ujub yang menjerumuskan pada kekufuran dan kekerasan hati.

SIffat ujub dapat menyebabkan seseorang lupa terhadap nikmat Allah, bahwa sebenarnya Allah lah Dzat yang telah mengkaruniakan nikmat dan memudahkan setiap hamba-Nya dalam melaksakan ketaatan. Ujub merupakan bentuk maksiatnya hati yang membatin, seperti yang diakui  Mutharrif, “Aku betul-betul bermalam dalam keadaan tidur lelap lalu menyesal di pagi harinya, lebih aku sukai dari pada bermalam dalam keadaan shalat/ibadah, tetapi pagi harinya aku merasa bangga (sudah beramal).

Tidak hanya dalam batin, ujub terkadang juga menjelma menjadi beberapa sikap seperti sikap sombong, tidak mau mendengarkan, enggan memperhatikan dan tidak menghormati orang lain. Lama-lama penyakit ujub bisa jadi menimbulkan kerasnya hati, karena menganggap orang lain lebih rendah dan dapat menjadikan dirinya sendiri menolak kebenaran melalui nasihat dan kritikan.

Keikhlasan seseorang dalam beramal seringkali bertarung dengan rasa ujub. Jika seseorang yang dihinggapi rasa ujub setelah beramal, maka akan menyebabkan terhapusnya amalan tersebut. Nah, saking berbahayanya penyakit ujub, sebagian ulama mengelompokkannya ke dalam kategori syirik, karena dapat menyebabkan terhapusnya amal. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwa ikhlas terkadang dihinggapi penyakit ujub. Siapa saja yang merasa ujub karena amal yang dilakukannya, maka akan hapuslah amalnya… Hmm.. mengerikan bukan konsekuensi menderita penyakit hati yang satu ini. Kalau sudah terjangkit penyakit ini, hal yang lebih utama adalah menyadari akan kekeliruannya, karena maksiatnya di dalam hati, maka hal pertama-tama adalah mengazamkan diri untuk memperbaiki.
Setelah membahas bagaimana bahayanya penyakitujub, saatnya memahami kiat-kiat menjaga diri dari sikap ujub:

1. Hindari pujian atau sanjungan berlebihan
Pujian seringkali lebih melalaikan daripada kritikan. Pujian yang berlebihan dapat menjerumuskan seseorang untuk merasa tinggi hati dan lupa diri terhadap Allah yang telah mengaruniakan segala nikmat dan kemampuan. Pujian semestinya dimuarakan pada Allah Subhanahu wa ta’ala

2. Ingatlah untuk Bersyukur kepada Allah
Sesungguhnya segala nikmat bersumber pada Allah. Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan sepanjang hidup seorang hamba, tetapi begitu banyak nikmat yang lupa untuk disyukurinya.

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

Padahal, dengan bersyukur kepada Allah seseorang laksana membuat self reminder,  bahwasanya tiada daya dan upaya tanpa kuasa Allah Azza wa Jalla. Dengan demikian, seseorang akan menjauh dari rasa tinggi hati.

3. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga ketawadhu’annya
Tawadhu adalah lawan dari sifat ujub, yang berarti rendah hati. Bergaul dengan orang-orang yang menjaga dirinya tawadhu lambat laun akan pula mempengaruhinya untuk turut bersikap tawadhu.
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Janganlah berbangga-bangga akan Nasab dan keturunan
Kadangkala manusia memandang diri sebagai seseorang yang mulia dikarenakan lahir dalam keluarga yang memiliki kedudukan tinggi dalam tatanan sosial ataupun ekonomi. Kecenderungan itu menyebabkan perasaan bahwa dirinya lebih utama dibandingkan beberapa orang lain karena kelebihan yang Allah anugerahkan. Hal ini akan membuka lebar-lebar masuknya rasa ujub dalam hati manusia.Semestinya potensi yang ada seharusnya lebih menjadikan manusia lebih mawas diri untuk dapat memanfaatkannya.

5. Membiasakan Diri Tetap Belajar, Bukan Merasa Sok Pintar
Derasnya arus informasi menjadikan banyak manusia zaman ini merasa paling mengetahui, padahal masih banyak hal yang butuh dipelajari. Keilmuan yang belum kokoh, bisa jadi menjerumuskan pada keinginan terselubung mendapatkan pujian, memenangkan perdebatan-perdebatan, dan hal lainnya. Keinginan-keinginan tersebut akan menciderai keikhlasan dalam beramal, dan nantinya dapat menimbulkan ujub dalam jiwa.

6. Memahami Hakikat Penciptaan Manusia
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (Q.S. Al Mukminun: 12-14)
Manusia hanya berasal dari tanah, kemudian Allah lah yang menjadikankita sebagai makhluk yang sempurna. Maka untuk apa kita berbangga-bangga jika kelak pun kita akan dikembalikan ke tanah? Bukankah Allah tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya?

7. Memahami Akibat dari Timbulnya Ujub
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, akibat terbesar yang ditimbukan dari rasa ujub adalah terhapusnya amal ibadah seseorang. Lebih lanjut, ujub yang bermetamorfosa menjadi sombong akan menghadirkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Naudzubillahiminzalik..

8. Mawas terhadap dosa yang telah dilakukan
Diantara yang menjaga manusia dari sifat ujub adalah mawas diri terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan. seseorang akan cenderung sibuk mengaharap ampunan dari Allah daripada bersikap ujub atas amalan-amalannya. Sesungguhnya penilaian atas amal manusia berada di sisi Allah, apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah.
Sesungguhnya seseorang beramal dengan amalan penduduk surge sesuai yang Nampak pada manusia, padahal ia adalah termasuk penduduk neraka.” (H.R. Bukhari)Sebagaimana kisah yang diriwayatkan dalam hadist Abu Dawud, mengenai dua orang bersaudara di zaman bani Israil, yang satu mengerjakan dosa, sedangkan yang satu lagi rajin beribadah.Orang yang rajin beribadah ini senantiasa memperhatikan saudaranya yang mengerjakan dosa sambil berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!”, suatu ketika orang yang rajin beribadah ini memergoki saudaranya sedang mengerjakan dosa, lalu ia berkata, “Berhentilah (melakukan dosa)!” Namun saudaranya balik menjawab, “Demi Tuhanku, biarkanlah diriku, dan memangnya kamu dikirim untuk mengawasiku?” Maka orang yang rajin beribadah itu berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga.” Maka Allah mencabut nyawa keduanya, dan keduanya berkumpul bersama di hadapan Allah. Allah berfirman kepada orang yang rajin beribadah, “Apakah kamu mengetahui Diriku atau berkuasa terhadap apa yang Aku lakukan dengan Tangan-Ku?”, maka Allah berfirman kepada orang yang mengerjakan dosa, “Pergilah dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku”, sedangkan kepada yang satu lagi Allah berfirman, “Bawalah dia ke neraka.
“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf:87)


Dengan demikian seseorang sepatutnya tidak merasa aman atas amalan yang telah dilakukannya, namun juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Benarlah apa yang dikatakan Aisyah radhiallahu ‘anha, “Sesungguhnya kalian telah lalai dari ibadah yang paling utama, yaitu tawaadhu’ (lawan ujub dan sombong).” Tulisan ini bagai menasihati diri sendiri, mengingat-ngingat apa-apa yang mungkin sempat terjadi dalam hati. Semoga sepenggal ilmu yang tertulis mampu menjadi pengingat kita semua, terlebih lagi saya.

Mengingat Allah



Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar Ra’du: 28)

Berdzikir atau mengingat Allah sebetulnya tidak hanya dapat dilakukan ketika shalat atau berada di masjid. Mengingat Allah dapat  dilakukan saat belajar, saat rekreasi, saat menunggu, saat dalam perjalanan, bahkan saat bekerja. Namun bisa jadi kesibukan dunia telah melalaikan diri dari mengingat-Nya. Kelalaian itu akan sangat mungkin membuka pintu kemaksiatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.  
Berdzikir sendiri ada berbagai macam cara. Diantara bentuknya adalah menyebut asma Allah disertai dengan perenungan makna juga pengimplementasiannya. Selain itu, berdizikir dapat pula dilakukan dengan cara mengingat dan mensyukuri nikmat Allah. Nikmat Allah sebetulnya selalu hadir hanya saja kita alpha mengingat dan mensyukurinya, seperti saat bangun tidur, sampai ke tujuan perjalanan, melihat hal yang mengagumkan, dan banyak lagi. Menuntut ilmu dalam sebuah majelis juga bagian dari mengingat Allah.

Dengan berdizikir, manusia seolah-olah menyandarkan dirinya pada Dzat yang kokoh, Allah Subhanahu wa taala, sehingga akan mengokohkan ruh dan hati. Jadi, manusia sebenarnya dapat melakukan charge pada jiwa dengan berdizikir kepada-Nya. Selain transfer power, berdzikir adalah salah satu cara manusia berupaya meraih keridhoan Allah Subhanahu wa ta’ala. Salah satu contohnya adalah beristighfar. Keutamaan istighfar dalam berdzikir ini sebagaimana diketahui diantaranya dapat menjadi sebab terampuninya dosa, mendatangkan rahmat Allah, membersihkan hati, melapangkan kesempitan, bahkan melancarkan rezeki. Belum lagi kalimat-kalimat dzikir yang lainnya. Oleh karenanya penting bagi manusia untuk menjaga lisan dan hatinya senantiasa berdzikir kepada Allah.

Dari Abdullah bin Busr, ia berkata, “Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah manusia yang bagaimanakah yang baik?” jawab beliau, “Yang panjang umurnya dan baik amalannya.” Salah satunya lagi bertanya, “Wahai Rasulullah sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya.” “Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (H.R. Ahmad)

Ibnul Qayyim menjelaskan, dengan berdizikir rasa takut pada Allah akan semakin besar. Dengan demikian dirinya selalu berupaya tunduk pada syariat-Nya, karena ia menyadari ada Allah yang Maha Mengetahui. Sementara jika seseorang lalai dari dzikir, tentu akan menimbulkan hal sebaliknya, rasa takut pada Allah akan semakinberkurang, sehingga bisa jadi cenderung tidak mengindahkan aturan-aturan-Nya.


Semoga kita selalu terjaga dari maksiat kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjaga selalu mengingat-Nya.

Speak Good or Remain Silent



Kata dapat menjadi air yang menggerus batu yang keras menjadi lunak. Dan kata dapat pula menjadi pisau tak kasat mata, yang menggores luka pada hati.

Aku menatap layar kunci smartphone, “Speak Good or Remain Silent”. Setelah kubuka kunci layar dan mengecek pesan pada aplikasi chating, layar itu berkata kembali meski samar-samar karena kini tertutup pesan-pesan yang masuk. Aku ingat, mengapa aku mulai mengganti wallpaper-nya. Agar saat terjebak dalam percakapan atau informasi yang cenderung membawa mudharat pada hati, kita harus sadar untuk segera mem-filter-nya, untuk kemudian tidak tenggelam dalam situasi dan tidak telanjur melepas kata yang tidak semestinya.

Banyak perubahan bermula dari kata. Baik dari kata yang kita dengar melalui pembicaraan, atau kata yang kita cerna melalui tulisan. Perubahan bermula dari kata yang mengguncang hati, entah tujuannya untuk mengeraskan atau melembutkan hati. Sebegitu besar kekuatan yang kata miliki. Mungkin itulah salah satu alasan-Nya, dibalik perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita untuk kerap membaca kalam-Nya. Dan itulah mengapa, para sahabat mengabadikan perkataan Rasul dalam hadist-hadistnya. Agar kata yang kita terima adalah kata-kata membawa pengaruh baik bagi hati, kata-kata yang menuntun pada siratal mustaqim, jalan yang lurus.

Bisa jadi seseorang pada mulanya adalah seseorang yang baik namun dapat menjadi rusak karena mendengar perkataan atau membaca tulisan yang merusak  hati dan pikiran. Sebaliknya, ada pula orang yang sebelumnya dikenal sebagai orang baik-baik namun berubah berkelakuan buruk dikarenakan terperangkap dalam kebiasaan mendengar dan mencerna perkataan yang buruk atau membawa kemudharatan. Adapula, perkataan yang dikemas baik, namun berlogika terbalik yang kata-katanya menakjubkan namun sejatinya memalingkan diri dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Korzybsky, ahli general semantics menjelaskan adanya hubungan antara kekacauan penggunaan Bahasa dengan penyakit jiwa. Implikasinya, pentingnya menggunakan Bahasa yang baik dan tertib dalam pemakaian istilah jika ingin menyehatkan masyarakat. Maka berlaku pun sebaliknya, masyarakat akan sakit jika terus menerus disuguhi perkataan yang merusak.

Pentingnya menertibkan istilah adalah kunci dalam menyehatkan masyarakat. Penertiban ini tak sekedar penertiban teknis, namun lebih kepada pemaknaannya. Seperti pemaknaan istilah auliya yang hits saat ini, pendapat jumhur ulama telah menafsirkan istilah auliya yang bermakna pemimpin (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 3/132). Mengaburkan pendapat para ulama yang notabene telah ahli dalam tafsir kitab suci Al-qur’an akan menggangu ketertiban penggunaan istilah. Lebih lanjut akan menggoyahkan iman, merapuhkan kepercayaan yang kokoh atas ulama maupun agama itu sendiri. Padahal, bukankah Al-qur’an merupakan mukjizat terbesar? Kalam-Nya merupakan pedoman dasar dalam menjalani kehidupan, Rasulullah adalah menyampai risalah-Nya dan ulama adalah pewarisnya.

Maka apalah kita yang awam ini? Mari senantiasa jadikan diri sebagai pembelajar dalam berkata yang baik atau diam.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah mengatakan yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)


Aku Sakit, Kenapa Engkau Tak Menjenguk-Ku?

Izinkan aku menuliskan untukmu sekelumit pesan dari Nabiku. Aku temukan pesan-pesan Nabi Shallaallahu 'alaihi wa Sallam yang membuat jantung gemetar. Ada ayat Allah yang membuatku tak punya pilihan lain di saat ini, kecuali menyampaikannya padamu sekalian. Maka, dengarkanlah dengan hati yang tulus dan jiwa yang tunduk dengan teguran dari Tuhanmu:

Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar (Q.S. Al-Hadiid [57]: 7)

Apakah yang Allah maksud ketika memperingatkan kita untuk menafkahkan sebagian dari harta yang kita miliki? Wallahu 'alam. Sesungguhnya, yang sedang berbicara kepadamu ini,tidak ada ilmu padanya kecuali sangat sedikit. Tak ada pengetahuan yang cukup padanya. Karenanya, untuk mengetahui maksud Allah dengan perintah nafkahkanlah itu, izinkanlah aku menghadirkan kepadamu  sabda Nabiku, Muhammad Shallaallahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ath-Thabrani. Ingatlah ketika Nabimu bersabda:

Sesungguhnya Allah mewajibkan atas orang-orang kaya Muslim untuk mengeluarkan harta mereka seukuran yang dapat memberikan keleluasaan hidup bagi orang-orang miskin. Tidak mengalami kesengsaraan orang-orang miskin, bila mereka lapar atau telanjang, kecuali karena perbuatan orang-orang kaya juga. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban orang-orang kaya itu dengan pengadilan yang berat dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. (H.r. Ath-Thabrani)

Sayyid Sabiq, salah seorang ulama mutakhir yang terkenal dengan Fiqhus-Sunnah-nya mengutip hadis ini seusai menukil ayat Al-Qur'an, "Dan orang-orang yang pada hartanya ada hak yang tersurat, bagi yang meminta pertolongan dan bagi yang melarat (tidak meminta pertolongan)." (Q.s. Al-Ma'arij [70]: 24-25)

Hari ini, ktika masjid-masjid kita telah berdiri begitu megahnya di tengah kaum Muslimin yang ditimpa kemelaratan, maka sudah saatnya kita memperhatikan peringatan Nabi Shallaallahu 'alaihi wa Sallam. Ada banyak saudara-saudara kita yang melarat, tetapi mulut mereka tak kuasa bicara karena besarnya rasa malu dan kuatnya keinginan untuk menjaga kehormatan diri. Mereka terdiam tak bicara, bukan tak punya keinginan untuk menghalau rasa lapar dan kemelaratan yang menimpa mereka. Terkadang mereka tak kuasa bicara karena tak tahu dimana letak kesalahannya, Patutkah mempertanyakan pemugaran masjid-masjid yang sudah megah di saat iman saudara-saudara kita nyaris tergadai karena gula dan mie instan yang diberikan secara Cuma-Cuma dari pemeluk agama yang berbeda?

Rasanya, tak sampai mulut ini berbicara karena bukankah masjid itu rumah Tuhan? Mereka tak bicara karena mungkin mereka tak pernah mendengar peringatan dari Umar bin Khaththab agar kita tidak sibuk berlomba memegahkan masjid. Atau mungkin mereka tak bicara karena besarnya keinginan untuk mempertahankan kehormatan diri. Tetapi, mereka bicara atau tidak, perut yang lapar tidak selesai hanya dengan anjuran untuk bersabar.

Hari-hari ini, kita menghadapi saat-saat yang sulit. Bencana terjadi silih berganti. Tanah-tanah yang kita injak, satu persatu mulai bergerak runtuh. Bukit-bukit yang mengokohkan Bumi kita, perlahan-lahan mulai sakit dan tak kuat lagi menanggung betapa angkuhnya kita. Sementara wajah saudara-saudara kita, taklagi penuh keramahan seperti dulu. Sebagian diantara saudara kita ada yang menjadi begitu rentan terhadap kemarahan. Ada diantara mereka yang mudah tersulut. Salah satu sebabnya adalah nestapayang takkunjung mendapatkan penawarnya darisaudara-saudara mereka yang kaya.

Teringatlah saya dengan sebuah peringatan dari Nabi kita, Muhammad Shallaallahu 'alaihi wa Sallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkata, "Serahkan sedekahmu sebelum datang suatu masa ketika engkau berkeliling menawarkan sedekahmu. Orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata, "Hari ini kami tidak perlu bantuanmu. Yang kami perlukan darahmu."
Ketika kita memberi sedekah, sesungguhnya yang kita lakukan adalah mengeluarkan dari kita hak orang miskin. Kita menafkahkan sebagian dari harta kita di jalan yang Allah Ta'ala perintahkan. Bukankah Allah 'Azza wa Jalla sendiri yang menegur kita dengn pertanyaan retoris-Nya:

Tahukah kamu siapa yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya', dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna. (Q.s. Al-Maa'uun [107]: 1-7)

Ya Allah, jangan-jangan kita termasuk orang yang mendustakan agama. Ada orang-orang yang tidak bisa tidur di malam hari karena rasa lapar yang teramat sangat, tetapi di bulan Ramadhan sekalipun kita masih sanggup tidurkarena tak sanggup lagi menghabiskan makanan. Maka, kepada siapa kita memohon syafaat di hari Kiamat jika kita tidak dihitung sebagai orang yang mengimani rasulullah Shallaallahu 'alaihi wa Sallam? Bukankah nabi kita telah bersabda, Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. (H.r. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar)

Senada dengan itu, Allah menegur kita dengan ungkapan yang halus dalam sebuah hadis qudsi riwayat Muslim, Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala kelak di Hari Kiamat akan bertanya, "Hai Anak Adam, Aku sakit, tetapi kenapa engkau tidak menjenguk-Ku?"

Jawab Anak Adam, "Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku harus menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?"

Allah bertanya, "Apakah engkau tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit,sedangkan engkau tidak menjenguknya? Apakah engkau tidak tahu, seandainya engkau kunjungi dia, maka engkau akan dapati aku di sisinya?"

"Hai Anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku makan?" Jawab Anak Adam, Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan Semesta Alam?"

Allah bertanya, "Apakah engkau tidak tahu hambaku si fulan meminta makan kepadamu, sedangkan engkau tidak memberinya makan? Apakah engkau tidak tahu seandainya engkau memberinya makan, engkau akan mendapatkannya di sisi-Ku? Aku meminta minum kepadamu, tetapi kenapa engkau tidak memberi-Ku minum?" Jawab Anak Adam, "Bagaimana mungkin aku melakukan, padahal Engkau Tuhan Semesta Alam?"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya minum. Ketahuilah, seandainya engkau memberinya minum, maka sudah pasti engkau mendapatkan-Nya disisi-Ku." (H.r. Muslim)


Kalau setiap saat kita menengadahkan tangan untuk memanjatkan doa kepada-Nya seraya memohon ampun, sementara kita tak pernah mau mengeluarkan sedikit dari harta kita meski hanya berupa seteguk air untuk orang yang nestapa, masih pantaskah kita mengharap pertemuan dengan-Nya?

Oleh: Muhammad Fauzil Adhim

Dibalik Enies Lobby

Beberapa kali di tengah kepenatan mengerjakan skripsi, saya menghibur diri dengan menonton serial kartun One Piece. Sebenarnya selingan semacam ini jarang sekali dilakukan, tapi nampaknya serial yang kartun yang menjadi tontonan adik saya selama sebulan terakhir membuat semacam gethok tular.

Tenang.. saya tidak akan menceritakan secara detail film kartun yang baru saya tonton ini. Alasan dibalik penulisan ini, adalah kisahnya yang mengingatkan saya pada sesuatu—yang lebih menarik dan nyata.

Episode yang saya tonton dan mengganjal untuk akhirnya saya tuangkan dalam tulisan ini adalah episode Enies Lobby. Dalam episode ini diceritakan penangkapan buronan, yaitu Nico Robin, yang berhasil melarikan diri dari pemusnahan Pulau tempat ia berasal. Dalam ceritanya, pulau tersebut dimusnahkan karena adanya perpustakaan besar—selain sebagai tempat meneliti tentang senjata pemusnah massal—utamanya dikarenakan pada pengembangan pengetahuan akan sebuah kebenaran. Pengetahuan itu dinilai akan membahayakan kondisi pemerintahan dunia sekarang.

Sesuatu yang dirasa lebih menarik adalah ketika saya justru teringat akan kisah kejayaan Islam masa lampau yang alur kisahnya mirip dengan kisah pulau Ohar, Pulau dimana Robin berasal. Selain itu, kisah perlawanan Luffy dan kawan-kawan melawan pemerintah dunia saya rasa juga mirip dengan kisah perlawanan umat Islam kini pada pemerintahan yang 'menguasai' dunia. Kemiripan kisah ini membuat saya tergelitik untuk mencari lebih detail dan menuliskan kembali, apa yang saya ketahui mengenai sejarah peradaban Islam.

Intermezzo: Dulu semasa kecil, saya tidak begitu tertarik pada serial One Piece, hanya menontonnya sesekali ketika serial kartun lain saya anggap kurang menarik. Mengapa? Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana tindakan menjadi bajak laut dijadikan sebagai film kartun anak, apa kita diminta untuk menjadi seorang pemberontak?—sebelum saya mengetahui bahwa yang bersikap zalim di kartun tersebut justru bukan bajak launya, melainkan pemerintahan yang (coba menguasai) dunia—terlebih lagi, pakaian yang dikenakan pun kurang sopan.

***
Pada abad kejayaan Islam, yang katanya abad kegelapan dunia, barat lebih tepatnya, perkembangan ilmu pengetahuan Islam begitu pesat. Banyak ilmuwan-ilmuwan muslim berkarya. Islam memandang pentingnya peran perpustakaan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Turunnya wahyu Alquran yang merupakan firman Allah, serta adanya hadist yang besumber dari perkataan Nabi Muhammad SAW mendorong penguasa untuk mendirikan perpustakaan.

Perpustakaan yang berdiri pertama kali untuk publik adalah Baitul Hikmah. Perpustakaan itu bukan saja berfungsi sebagai tempat penyumpanan buku, tetapi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Pada masa Harun al-Rasyid intitusi perpustkaan bernama Khizanah al Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. (http://lib.umpo.ac.id/index.php/baca/konten/221/sejarah-perpustakaan-islam).

Baghdad, kota ini sebelumnya merupakan daerah kecil dan sempit. Khalifah Al-Mansur lalu mengubahnya dengan mendatangkan para insinyur, arsitek, dan pakar ilmu ukur menjadi kota yang memiliki perpustakaan terbesar di dunia, Iskandariyah. Menelan biaya 4,8 juta dirham dan 100.000 pekerja, Baghdad membangun dirinya menjadi kota sentral yang penuh dengan nuansa kemajuan teknologi.

Peradaban ini pun menjadi yang terdepan dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang kontribusi nya luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Sebut saja Al Khwarizmi, ahli matematika, astronomi, dan geografi, yang merupakan sang penemu aljabar. Ibnu Sina sang Bapak Kedokteran. Al Biruni dkk ahli astronomi yang mencetuskan sistem heliosentris. Jabir Ibn Hayyan sang ahli kimia yang menemukan proses distilasi dan kristalisasi. Ibnu Al haytsam, seorang fisakawan di bidang optika yang menemukan teori bahwa proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata, bukan karena sorot mata seperti keyakinan pada zaman Aristoteles. Dan masih banyak ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya dengan segudang penemuannya. (http://hati.unit.itb.ac.id/2012/09/27/intelektual-dalam-peradaban-islam/)

Hingga pada 1258, adalah sebuah invasi, pengepungan, dan penghancuran kota Baghdad—tempat perpustakaan besar Islam berada dan ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dan ibu kota Irak modern—oleh  pasukan Ilkhanate Mongol bersama pasukan sekutu-sekutu mereka di bawah pimpinan Hulagu Khan. Jika Kalifah Abbasiyah hanya menolak menyerah dan mengirimkan pasukan, Khagan menyuruh saudaranya, Hulagu, untuk menghancurkannya. Kota itu dihancurkan dan dibakar. Bahkan perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, termasuk Bait al-Hikmah, tidak luput dari serangan pasukanIlkhanate, yang menghancurkan perpustakaan-perpustakaan dan membuang buku-bukunya yang berharga ke sungai Tigris.*

Mongke Khan memerintahkan saudaranya untuk mengampuni Khalifah jika dia menyerah kepada kekausaan Khanate Mongol. Ketika mendekati Baghdad, Hulagu menuntut supaya kota itu menyerah; sang khalifah, Al-Musta'sim, menolak. Dalam banyak sumber, Al-Musta'sim sebenarya tidak bersiap untuk diserang. Dia hanya tidak mau menyerahkan kota Baghdad kepada "orang barbar kafir" (Mongol) dan dia percaya bahwa jikapun dia menyerah, pasukan Mongol itu akan tetap membantai penduduk kota. Begitu mendengar penolakan kahlidfah, Hulagu sangat marah dan bersumpah bahwa kota itu akan dihancurkan .* *(http://id.wikipedia.org/wiki/Pengepungan_Baghdad_(1258)

Saya sangat terperanjat ketika mengetahui secara detail bahwa cerita keren One Piece episode Enies Lobby edisi Penyerangan Pulau Ohara sangat mirip dengan cerita Penyerangan Baghdad di tahun 1258. Dimana di Pulau Ohara terdapat perpustakaan yang merupakan pusat pengembangan ilmu pengetahuan kala itu. Kemudian Pulau tersebut diserang tanpa penguasanya siap akan penyerangannya tersebut. Penguasa pulau Ohara pun menolak untuk menyerah, hingga akhirnya pulau tersebut dibakar.

***

Hubungan Islam dengan Barat pada hari ini senantiasa identik dengan hubungan benturan (‘alâqah ash-shirâ’) dan permusuhan. Barat senantiasa membangun dan menyebarkan opini negatif terhadap Islam. Menurut mereka, Islam merupakan ancaman terhadap peradaban umat manusia. Di sisi lain, Barat sering kali membanggakan kemajuan peradaban mereka dan mengklaim bahwa hal itu merupakan warisan dari kemajuan peradaban Yunani-Romawi semata.

Hal yang tersebut diatas saya ingat ketika episode Enies Lobby mengisahkan, pemerintah dunia saat itu berusaha membuat opini negative serta memerangi bagi siapa saja yang berusaha mengungkapan peristiwa pada abad kekosongan. Abad dimana terjadi pemutarbalikkan fakta antara yang benar dengan yang salah. Abad yang kemudian mengiringi kebangkitan pemerintahan (yang mencoba menguasai) dunia kemudian.

The Dark Age menurut Eropa sesungguhnya merupakan masa kejayaan Islam. Ketika di Cordova, aktivitas ilmiah mulai berkembang pesat sejak masa pemerintahan Abdurrahman II (822-852 M). Ia mendirikan universitas, memperluas dan memperindah masjid (Abdul Karim, 2007: 239). Cordova kemudian menjadi sangat maju dan tampil sebagai pusat peradaban yang menyinari Eropa. Pada waktu itu, Eropa masih tenggelam pada keterbelakangan dan kegelapan Abad Pertengahan. Dr. Muhammad Sayyid Al-Wakil (1998: 321) menukil perkataan seorang penulis Amerika yang menggambarkan keadaan Eropa pada masa itu,  “Jika matahari telah terbenam, seluruh kota besar Eropa terlihat gelap gulita. Di sisi lain, Cordova terang benderang disinari lampu-lampu umum. Eropa sangat kumuh, sementara di kota Cordova telah dibangun seribu WC umum. Eropa sangat kotor, sementara penduduk Cordova sangat concern dengan kebersihan. Eropa tenggelam dalam lumpur, sementara jalan-jalan Cordova telah mulus. Atap istana-istana Eropa sudah pada bocor, sementara istana-istana Cordova dihiasi dengan perhiasan yang mewah. Para tokoh Eropa tidak bisa menulis namanya sendiri, sementara anak-anak Cordova sudah mulai masuk sekolah.”**

Salah satunya melalui Perang Salib, kaum Kristen ke dalam kontak langsung dengan orang-orang Muslim di tanah Islam itu sendiri. Orang-orang Kristen mendapati bahwa di Levant banyak hal baru bagi mereka dan teknik-teknik yang tidak dikenal di Barat. Oleh karena itu ketika terjadi gencatan senjata, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari teknik-teknik baru di bidang pertanian, industri dan kerajinan, serta melakukan hubungan perdagangan dengan orang-orang Muslim (Bammate, 2000: 44-45). Akhirnya pada abad XV muncullah gerakan di Eropa yang dinamakan renaissance. Renaissance disebut juga Abad Kebangkitan karena ia adalah awal kebangkitan manusia Eropa yang ingin bebas dan tidak lagi terbelenggu sebagai kehendak untuk merealisasikan hakikat manusia sendiri. Renaissance merupakan gerakan yang menaruh minat untuk mempelajari dan memahami kembali peradaban dan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno (Suhamihardja, 2002: 3).**
**(https://saripedia.wordpress.com/tag/dark-age/)

Pada saat Eropa mulai bangkit, Islam justru mengalami kemunduran danm keterbelakangan. Setelah Eropa kuat karena mengambil ilmu dan peradaban dari Islam, mulailah Eropa memberantas umat Islam dan merampas kekayaannya, serta melakukan penjajahan keseluruh dunia. Jadi, renaissance yang telah membangkitkan Eropa dari keterbelakangannya itu membawa dampak luar biasa, tidak hanya bagi masyarakat Eropa, namun juga bagi Dunia Islam. Dampak yang dirasakan bagi Eropa justru berkebalikkan dengan dampak yang diterima bagi dunia Islam.

Selain penjajahan negeri-negeri umat Islam, dampak negatif renaissance terhadap Dunia Islam tersebut dikemukakan oleh Abul Hasan Ali An-Nadawi yaitu dunia Islam dipaksa keadaan untuk tunduk pada pola ajaran materialistis mengalami kemunduran ilmiah sehingga system kehidupan yang dijalankan saat ini mau tidak mau harus sesuai dengan pola ajaran Barat.
Saat ini yang sering dituduhkan penjahat—atau Bahasa kekiniannya teroris—adalah umat Islam. Padahal jika ditelusuri, tuduhan-tuduhan tersebut merupakan hasil konspirasi dalam menutupi kejahatan-kejahatan yang saat ini terjadi.

***

Kisah-kisah Islam sejatinya memang lebih memukau, dan lebih mnginspirasi—terlepas darimana penulis kartun One Piece itu terinspirasi. Yang jelas, selain menonton kartun, kita harus lebih bersemangat mentadaburri sirah-sirah Islam. Hehe
Semoga kita senantiasa dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi :)


wallahu a'lam bishawab

Membangun Peradaban melalui Optimalisasi Zakat

Di setiap zaman, manusia bergerak dalam membentuk peradabannya masing-masing. Suatu peradaban dapat dikatakan maju dilihat melalui aspek material dan immaterial yang dibangun. Banyak peradaban yang maju dari segi material sejak zaman kaum ‘Aad, kaum Tsamud, bangsa Fir’aun yang ditunjukkan dengan adanya bangunan-bangunan yang megah, kokoh, dan indah, sebagaimana pada zaman ini manusia mampu membangun gedung-gedung pencakar langit. Namun, tak semua zaman mampu membangun dengan kokoh segi immaterial melalui pemikiran-pemikiran yang cerdas dan bermoral.

Peradaban tinggi mulai dibangun umat Islam di masa Nabi Muhammad SAW. Pada masa itu, Nabi Muhammad SAW menegakkan syariat Islam dalam mengatur aspek-aspek kehidupan. Dengan mengacu pada Al-qur’an dan berteladan Rasulullah SAW terbukti keadaan umat Islam mampu bangkit dari keterpurukkan serta menggapai zaman kejayaannya. Dimulai pada zaman Rasulullah SAW kemudian dilanjutkan oleh kekhalifahan Islam, ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat, nilai-nilai moral ditegakkan, hukum diselenggarakan dengan adil, pembangunan besar-besaran dan pengaruh Islam pun semakin meluas.

Salah satu instrumen penegak keadilan dan pengatur kesejahteraan umat pada saat itu adalah zakat. Dengan konsep memberikan sebagian rezeki yang didapat untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan, zakat menjadi instrumen yang ampuh dalam bidang ekonomi dan sosial. Zakat ibarat sebuah jembatan penghubung yang mempererat persaudaraan antara kaum kaya dan miskin untuk berjalan bersama dalam pembangunan. Dengan adanya hubungan yang erat dari keduanya, suatu peradaban dapat benar-benar dikatakan maju karena kemajuan tersebut dirasakan keduanya tanpa ada yang merasa terzhalimi.

Kegemilangan zakat adalah sejarah yang pernah ada. Umar bin Abdul Aziz merupakan khalifah umat Islam yang menerapkan zakat sebagai konsep utama dalam mengentaskan kemiskinan dan mensejahterakan rakyat.  Ibnu Sa`ad dalam karyanya, ath-Thabaqat al-Kubra, menuturkan kesaksian Muhajir bin Yazid, pegawai zakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seperti berikut; Kami diangkat sebagai pegawai zakat oleh Umar bin Abdul Aziz. Kami pun membagikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Tapi, pada tahun berikutnya kami justru memungut zakat dari orang-orang itu. Ini menunjukkan keberhasilan zakat, di mana zakat dapat mengubah orang dari orang miskin menjadi orang kaya. Penyaluran zakat dapat mengubah kemiskinan menjadi kekayaan, bukan justru mempertahankan kemiskinan itu sendiri.

Apa yang telah dilakukan khalifah Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bahwa ia telah memaajukkan umat melalui penerapan hukum zakat dari apa yang pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW, Khulafaurrasyidin, dan khalifah sesudahnya. Pada masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, para mustahiq (orang yang wajib membayar zakat) telah berubah menjadi muzakki sehingga sulitnya mencari mustahiq sehingga puncak peradaban zakat dapat dicapai pada masanya. Umar meminta dan memerintahkan dengan tegas agar pengumpulan zakat dari orang Islam yang kaya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban seorang muslim tetapi juga sebagai pemenuhan hak orang miskin atas orang kaya. 

Pada zaman ini, banyak yang memandang zakat hanya sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT tanpa memahami berbagai efek positif yang ditimbulkannya. Menunaikan zakat dianggap sulit karena terbentur keinginan manusia untuk bertindak konsumtif dalam membelanjakan hartanya untuk keperluan pribadi. Hal inilah yang membuat kemandekan dalam memaksimalkan potensi zakat, baik dalam pemikiran maupun praktiknya. Umat muslim harus segera sadar bahwa Islam telah memiliki instrumen yang sangat ampuh untuk bangkit dan membangun peradaban sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam perintah Allah. Efek dari pemberdayaan zakat terbukti sangat besar pengaruhnya terhadap pembangunan. Oleh karena itu, umat Islam harus memaksimalkan penghimpunan zakat dari potensi yang sangat besar yang dimiliki umat muslim Indonesia untuk memajukkan peradaban dengan berpijak pada sumber peradaban kita sendiri, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah.


Mungkinkah pengelolaan zakat seperti pada masa Umar bin Abdul Aziz dapat diwujudkan di negeri yang mayoritas muslim ini? Beranikah umat muslim bermimpi penerimaan dana zakat rakyat Indonesia dapat melampaui penerimaan APBN? Seluruh ajaran Islam termasuk zakat adalah bersifat universal dan dapat diterapkan di semua tempat, ruang dan waktu. Dalam hal perolehan potensi dana zakat yang dapat terkumpul, bisa jadi mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan mengingat penduduk Indonesia yg mayoritas muslim. Melihat fakta tersebut  tidak diragukan lagi bahwa potensi pemanfaatan dana zakat sangatlah besar hanya saja masalah yang dihadapi kini adalah bagaimana memaksimalkan potensi penggalangan dana zakat dari masyarakat